Batu Welong Manis:Tonggak Sejarah Pendidikan dan Misi Kekristenan di Desa Pa,Yalau 1920 -an
Batu Welong Manis: Tonggak Sejarah Pendidikan dan Misi Kekristenan di Desa Pa’yalau (1920-an)
Di tengah hamparan hijau Desa Pa’yalau, wilayah Krayan Raya, berdiri sebuah batu tua yang menyimpan kisah penting dalam sejarah pendidikan dan kekristenan di daerah pedalaman ini. Batu tersebut dikenal dengan nama Batu Welong Manis, didirikan sekitar tahun 1920-an oleh dua tokoh perintis yang menjadi pembawa terang pendidikan modern kepada masyarakat setempat.
Para Perintis: Welong dan Manis
1. Welong — Misioner dari Suku Sangir
Welong adalah seorang misioner dari suku Sangir, yaitu suku asal Kepulauan Sangihe–Talaud, di bagian utara Sulawesi. Orang Sangir pada masa itu dikenal sebagai:perantau,penginjil,pendidik dasar,serta pembawa alfabet latin ke wilayah pedalaman Indonesia Timur.
Dengan semangat pelayanan dan keberanian melintasi daerah terpencil, Welong tiba di Pa’yalau pada tahun 1920-an, membawa:
kemampuan membaca dan menulis,pengajaran moral dan iman,pola pendidikan modern yang terstruktur.
2. Manis — Rekan Pelayan, Asal Suku Belum Terdokumentasi
Manis adalah rekannya yang turut mengabdikan hidup bagi masyarakat Pa’yalau. Hingga kini, asal sukunya belum diketahui secara pasti, namun kontribusinya dalam menjalankan misi pendidikan dan pembinaan iman sejajar dengan peran Welong.
Pendirian Batu Welong Manis
Sebagai tanda awal berdirinya misi pelayanan dan pendidikan modern, kedua tokoh tersebut mendirikan sebuah batu besar sebagai penanda sejarah. Nama mereka kemudian diabadikan dengan menggabungkan keduanya:
“Batu Welong Manis”
Batu ini menjadi memorial penting yang menandai:
hadirnya pendidikan formal pertama di Pa’yalau,
dimulainya penyebaran pengetahuan membaca dan menulis,
masuknya pola pengajaran Kristen secara sistematis ke wilayah Krayan Raya.
Makna Simbol Wajah Burung Hantu pada Batu
Salah satu ciri khas Batu Welong Manis adalah ukiran kepala burung hantu yang terpahat di permukaannya. Simbol ini bukan sekadar dekorasi, tetapi memiliki makna filosofis yang dalam.Burung hantu dipilih karena:memiliki mata besar dan bulat,tatapannya fokus dan tajam,identik dengan kearifan dan penjagaan.Bagi Welong dan Manis, burung hantu melambangkan tatapan seorang guru yang memperhatikan murid dengan penuh kasih,menjaga, membimbing, dan mengarahkan,menuntun murid agar merasa diperhatikan dan dihargai.Simbol ini mewakili hati seorang pendidik yang mereka tanamkan sejak awal berdirinya misi pendidikan di Pa’yalau.Peran Batu Welong Manis bagi Generasi KrayanBatu ini menjadi saksi sejarah bagi lahirnya pendidikan formal pertama di Krayan,perubahan pola hidup masyarakat dari hanya tradisional menuju pengenalan literasi,pertumbuhan iman Kristen sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Krayan.Generasi Pa’yalau dan Krayan Raya hingga hari ini masih mengenang batu ini sebagai tonggak awal pencerahan dan pengetahuan.Batu Welong Manis bukanlah sekadar batu. Ia adalah tanda cinta dua misioner—Welong dari suku Sangir dan Manis yang sukunya belum diketahui—yang membawa pendidikan, iman, dan perubahan bagi masyarakat Pa’yalau pada era 1920-an.
Simbol burung hantu pada batu itu mengingatkan bahwa pendidikan sejati selalu berangkat dari Tatapan Kasih Sang Guru, yang menginginkan anak-anaknya bertumbuh dalam pengetahuan dan kebaikan.
penulis:Kolen.Dawat,S.Pd
Baca juga:
Batu Welong Manis:Tonggak Sejarah Pendidikan dan Misi Kekristenan di Desa Pa,Yalau 1920 -an
Batu Welong Manis:Tonggak Sejarah Pendidikan dan Misi Kekristenan di Desa Pa,Yalau 1920 -an