Sebuah Batu titik balik matahari panas dan musim Dingin.
Batu Tu’: Jejak Kecerdasan Leluhur dalam Menentukan Musim di Desa Pa’yalau
Di Desa Pa’yalau terdapat sebuah batu bersejarah yang dikenal sebagai Batu Tu’. Batu ini merupakan salah satu bukti kecerdasan leluhur dalam membaca tanda-tanda alam. Orang tua zaman dulu menggunakan Batu Tu’ untuk mengetahui perubahan musim, seperti musim panas dan musim dingin, sekaligus untuk memperkirakan tanggal dan hari berdasarkan posisi matahari.
Batu Tu’ juga berperan penting dalam menentukan musim tanam. Hanya orang-orang dengan pengetahuan khusus yang dapat melakukan pengamatan ini. Mereka akan berdiri pada titik tertentu yang telah ditandai oleh batu, lalu melihat posisi matahari untuk menentukan waktu terbaik memulai kegiatan pertanian.
Secara fungsi, batu-batu seperti ini bukanlah alat peramal tunggal. Ia lebih merupakan penanda lokasi atau titik referensi yang digunakan untuk mengamati perubahan alam yang berhubungan dengan peredaran benda langit. Melalui pengamatan yang teliti, masyarakat dapat memahami siklus lingkungan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan hidup, terutama dalam pertanian.
Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang membantu petani tradisional mengelola siklus tanam mereka. Batu Tu’ bukan hanya benda fisik, tetapi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam yang menjadi pegangan masyarakat sejak dahulu hingga kini
Di Desa Pa’yalau terdapat sebuah batu bersejarah yang dikenal sebagai Batu Tu’. Batu ini merupakan salah satu bukti kecerdasan leluhur dalam membaca tanda-tanda alam. Orang tua zaman dulu menggunakan Batu Tu’ untuk mengetahui perubahan musim, seperti musim panas dan musim dingin, sekaligus untuk memperkirakan tanggal dan hari berdasarkan posisi matahari.
Batu Tu’ juga berperan penting dalam menentukan musim tanam. Hanya orang-orang dengan pengetahuan khusus yang dapat melakukan pengamatan ini. Mereka akan berdiri pada titik tertentu yang telah ditandai oleh batu, lalu melihat posisi matahari untuk menentukan waktu terbaik memulai kegiatan pertanian.
Secara fungsi, batu-batu seperti ini bukanlah alat peramal tunggal. Ia lebih merupakan penanda lokasi atau titik referensi yang digunakan untuk mengamati perubahan alam yang berhubungan dengan peredaran benda langit. Melalui pengamatan yang teliti, masyarakat dapat memahami siklus lingkungan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan hidup, terutama dalam pertanian.
Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang membantu petani tradisional mengelola siklus tanam mereka. Batu Tu’ bukan hanya benda fisik, tetapi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam yang menjadi pegangan masyarakat sejak dahulu hingga kini
Baca juga:
'Kemenangan Bersejarah'Desa Pa.Yalau Juara 1 Devisi Utama Sepak Bola Tingkat Kecamatan Tahun 2023
'Kemenangan Bersejarah'Desa Pa.Yalau Juara 1 Devisi Utama Sepak Bola Tingkat Kecamatan Tahun 2023